nolac rentrap

cuma seorang jongos yang sedang berusaha untuk memperbaiki nasib dan menjadi majikan suatu hari nanti :D
interested in accounting/auditing, HIMYM, cat, funny yet satire things, business attire, cute things, girl's stuff..

Switch the Colors

May 13, 2013
Cantik atau pintar?
Di suatu sore yang membosankan, Einstein membuka obrolan dengan rekannya sesama fisikawan,
“Jika kamu dapat memilih jodoh, ada dua orang wanita di depanmu, yang satu cantik tapi bodoh, yang satu lagi jelek tapi pintar, mana yang akan kau pilih?”
Rekannya itu pun dengan yakinnya menjawab,
“Tentu saja saya akan memilih wanita cantik!”
Einstein sempat kaget dengan jawaban rekannya yang spontan itu, ia pun bertanya lagi
“Kenapa kamu bisa seyakin itu?”
Rekan fisikawan pun beralasan,
“Yah kau pikir saja, aku kan sudah jelek, tapi aku pintar, jadi untuk apalah lagi aku mencari wanita yang pintar? Jika aku menikahi wanita cantik, tentu aku bisa memperbaiki keturunan, anakku akan mewarisi kecerdasanku dan kecantikan dari ibunya”
Einstein pun tersenyum kecil, ia melanjutkan,
“Oh ya? Namun bagaimana jika ternyata anakmu justru hanya mewarisi kejelekan wajahmu dan kebodohan ibunya?”
Tettoooooottttt! Rekan fisikawannya itu pun tak bisa berkata apa-apa lagi.
Mungkin tidak hanya rekannya Einstein yang sampai saat ini hanya mempertimbangkan fisik sebagai kriteria utama dalam memilih pasangan, jika melihat dan mengingat-ingat teman teman sekeliling kita, juga pasti banyak sekali yang jalan pemikirannya sesimpel dan seimpulsif itu. Bahkan tak jarang saya temukan laki-laki yang sesumbar hanya ingin memacari gadis yang cantik, padahal rupanya tak seganteng dan semantap obsesinya itu sendiri. Saya menamakan laki-laki macam itu sebagai laki-laki kurang tau diri atau laki-laki yang sepertinya jarang berkaca..hahaha.. Mungkin lebih dari 50% teman saya yang bergender pria berpikiran seperti itu. Tapi ya itu memang hak mereka kan, toh mereka yang punya cita-cita, kalau gagal ya mereka yang akan sakit hati sendiri, kalau ternyata berhasil pun pasti saya akan dapat minimal traktiran bakso darinya.
Karena umumnya teman-teman lelaki saya memang impulsif, tentu juga sempat membawa dampak yang lumayan bagi teman-teman perempuan saya dan bahkan saya sendiri, misalnya membuat kami minder dan juga senang membanding-bandingkan diri kami dengan keindahan fisik perempuan lain.  Saya sempat merasa jelek sedunia, tak pantas bahagia, item, dekil, jadi malah malas memperhatikan penampilan, dan bahkan berhasil membuat mulut saya makin nyinyir dan pikiran saya makin sarkastik. Sampai akhirnya saya sadari, kok saya bodoh sekali ya. Bayangkan saja, dengan kondisi saat ini dimana negara-negara di dunia kebanyakan sudah melewati fase memperjuangkan kemerdekaan, nutrisi para warganya juga pasti sudah jauh lebih baik dibanding awal abad 20 dulu. Coba kalian lihat sekitar, jaman sekarang sepertinya semua perempuan enak saja dilihat, salah satunya karena sudah kenal susu sejak lahir, dan air tajin tak lagi dikenal. Saking banyaknya perempuan cantik, tak lantas semuanya beruntung jadi selebriti yang lantas dikejar-kejar paparazzi, banyak juga yang karena hanya mengandalkan fisik, justru berakhir di laci penyimpanan lelaki hidung cemong.
Kalau pendapat saya pribadi sih seiring dengan kemajuan zaman, sudah tak relevan lagi untuk beradu argumen mengenai cantik tak cantik, karena ibaratnya sekarang kambing dibedakin pun bisa jadi cantik, tentu bedaknya harus magic sekali ya. Artinya asal punya modal, punya kemampuan, apa saja bisa disulap, kecantikan bisa dibeli. Kulit bisa jadi putih bersinar dalam semenit dengan bantuan bleamish balm cream, lemak bisa hilang dalam hitungan jam dengan lyposuction, hidung bisa mancung dengan bantuan operasi plastik, mata bisa terlihat seperti bamby dengan bantuan eyeliner. Jadi sekarang yang namanya cantik bisa dibuat. Yang jadi masalah sekarang, tentu tak semua perempuan bisa mudah mendapatkan modal untuk cantik, karena ga semua terlahir cantik, dan ga semua terlahir dari keluarga kaya.
Ini lagi nih yang sebenarnya masih bisa kok diakali, modal bisa didapat, asal mau usaha. Gimana caranya? Yang paling simple aja, belajar deh. Jangan pernah berhenti belajar, dan maknai tiap apa yang kamu pelajari, biar ga jadi ilmu kosong doang. Dengan belajar, terus belajar, kamu bisa jadi expert di bidang kamu, arti lainnya kamu pintar. Pintar di bidang kamu. Kalau kamu pintar, perusahaan tentu ga akan ragu untuk memberi kompensasi besar buatmu, itulah yang namanya modal. Kepintaran itu jugalah yang akan membawa rasa percaya diri dalam diri, cantik ga ada artinya kalau ga pede, cantik baru keluar kalo kamu percaya diri. Jalan kamu bisa jadi lebih tegap, wajah bisa jadi lebih bersinar, senyum pun akan lebih manis. Selain itu dengan kepintaran, masalah hidup akan lebih mudah kamu selesaikan, kan kamu pintar, jadi kamu akan mudah menemukan solusi, dengan itu kamu bakalan jarang marah atau bete, muka bisa sumringah terus.
Mau bukti? Lihat saja mantan Menteri Keuangan kita yang sekarang hijrah ke US, atau mantan deputi Gubernur BI yang sayangnya kini tersangkut kasus hukum, saya rasa, mereka ga akan terlihat secantik sekarang kalau mereka ga sepintar itu. Dosen-dosen idola saya juga keliatannya cakep benjeeettt deh dimata saya, belajar di kampus makin seneng kalau mereka yang ngajar, cuci mata, asah otak pula.  Makanya, jadilah perempuan pintar, kalau kamu pintar, kecantikan akan menyusul dengan sendirinya, otomatis. Pintar itu pasti cantik, tapi cantik belum tentu pintar.
Note:
Saya nulis ini bukan berarti menggeneralisasi kalau semua cewek cantik itu pasti bodoh ya, gak kok. Selama ini saya selalu mendapat pendidikan di tempat terbaik, dan disana saya banyak menemukan teman yang udah cantik, pintar, kaya, baiiiikkkkk, ga sombong, Subhanallah. Saya sampai wonder, dulu ortunya temen-temen saya itu sedekah apa ya sampai bisa punya anak se-amazing itu? :D
Photo source: http://joyreactor.com/post/284189

Cantik atau pintar?

Di suatu sore yang membosankan, Einstein membuka obrolan dengan rekannya sesama fisikawan,

“Jika kamu dapat memilih jodoh, ada dua orang wanita di depanmu, yang satu cantik tapi bodoh, yang satu lagi jelek tapi pintar, mana yang akan kau pilih?”

Rekannya itu pun dengan yakinnya menjawab,

“Tentu saja saya akan memilih wanita cantik!”

Einstein sempat kaget dengan jawaban rekannya yang spontan itu, ia pun bertanya lagi

“Kenapa kamu bisa seyakin itu?”

Rekan fisikawan pun beralasan,

“Yah kau pikir saja, aku kan sudah jelek, tapi aku pintar, jadi untuk apalah lagi aku mencari wanita yang pintar? Jika aku menikahi wanita cantik, tentu aku bisa memperbaiki keturunan, anakku akan mewarisi kecerdasanku dan kecantikan dari ibunya”

Einstein pun tersenyum kecil, ia melanjutkan,

“Oh ya? Namun bagaimana jika ternyata anakmu justru hanya mewarisi kejelekan wajahmu dan kebodohan ibunya?”

Tettoooooottttt! Rekan fisikawannya itu pun tak bisa berkata apa-apa lagi.

Mungkin tidak hanya rekannya Einstein yang sampai saat ini hanya mempertimbangkan fisik sebagai kriteria utama dalam memilih pasangan, jika melihat dan mengingat-ingat teman teman sekeliling kita, juga pasti banyak sekali yang jalan pemikirannya sesimpel dan seimpulsif itu. Bahkan tak jarang saya temukan laki-laki yang sesumbar hanya ingin memacari gadis yang cantik, padahal rupanya tak seganteng dan semantap obsesinya itu sendiri. Saya menamakan laki-laki macam itu sebagai laki-laki kurang tau diri atau laki-laki yang sepertinya jarang berkaca..hahaha.. Mungkin lebih dari 50% teman saya yang bergender pria berpikiran seperti itu. Tapi ya itu memang hak mereka kan, toh mereka yang punya cita-cita, kalau gagal ya mereka yang akan sakit hati sendiri, kalau ternyata berhasil pun pasti saya akan dapat minimal traktiran bakso darinya.

Karena umumnya teman-teman lelaki saya memang impulsif, tentu juga sempat membawa dampak yang lumayan bagi teman-teman perempuan saya dan bahkan saya sendiri, misalnya membuat kami minder dan juga senang membanding-bandingkan diri kami dengan keindahan fisik perempuan lain.  Saya sempat merasa jelek sedunia, tak pantas bahagia, item, dekil, jadi malah malas memperhatikan penampilan, dan bahkan berhasil membuat mulut saya makin nyinyir dan pikiran saya makin sarkastik. Sampai akhirnya saya sadari, kok saya bodoh sekali ya. Bayangkan saja, dengan kondisi saat ini dimana negara-negara di dunia kebanyakan sudah melewati fase memperjuangkan kemerdekaan, nutrisi para warganya juga pasti sudah jauh lebih baik dibanding awal abad 20 dulu. Coba kalian lihat sekitar, jaman sekarang sepertinya semua perempuan enak saja dilihat, salah satunya karena sudah kenal susu sejak lahir, dan air tajin tak lagi dikenal. Saking banyaknya perempuan cantik, tak lantas semuanya beruntung jadi selebriti yang lantas dikejar-kejar paparazzi, banyak juga yang karena hanya mengandalkan fisik, justru berakhir di laci penyimpanan lelaki hidung cemong.

Kalau pendapat saya pribadi sih seiring dengan kemajuan zaman, sudah tak relevan lagi untuk beradu argumen mengenai cantik tak cantik, karena ibaratnya sekarang kambing dibedakin pun bisa jadi cantik, tentu bedaknya harus magic sekali ya. Artinya asal punya modal, punya kemampuan, apa saja bisa disulap, kecantikan bisa dibeli. Kulit bisa jadi putih bersinar dalam semenit dengan bantuan bleamish balm cream, lemak bisa hilang dalam hitungan jam dengan lyposuction, hidung bisa mancung dengan bantuan operasi plastik, mata bisa terlihat seperti bamby dengan bantuan eyeliner. Jadi sekarang yang namanya cantik bisa dibuat. Yang jadi masalah sekarang, tentu tak semua perempuan bisa mudah mendapatkan modal untuk cantik, karena ga semua terlahir cantik, dan ga semua terlahir dari keluarga kaya.

Ini lagi nih yang sebenarnya masih bisa kok diakali, modal bisa didapat, asal mau usaha. Gimana caranya? Yang paling simple aja, belajar deh. Jangan pernah berhenti belajar, dan maknai tiap apa yang kamu pelajari, biar ga jadi ilmu kosong doang. Dengan belajar, terus belajar, kamu bisa jadi expert di bidang kamu, arti lainnya kamu pintar. Pintar di bidang kamu. Kalau kamu pintar, perusahaan tentu ga akan ragu untuk memberi kompensasi besar buatmu, itulah yang namanya modal. Kepintaran itu jugalah yang akan membawa rasa percaya diri dalam diri, cantik ga ada artinya kalau ga pede, cantik baru keluar kalo kamu percaya diri. Jalan kamu bisa jadi lebih tegap, wajah bisa jadi lebih bersinar, senyum pun akan lebih manis. Selain itu dengan kepintaran, masalah hidup akan lebih mudah kamu selesaikan, kan kamu pintar, jadi kamu akan mudah menemukan solusi, dengan itu kamu bakalan jarang marah atau bete, muka bisa sumringah terus.

Mau bukti? Lihat saja mantan Menteri Keuangan kita yang sekarang hijrah ke US, atau mantan deputi Gubernur BI yang sayangnya kini tersangkut kasus hukum, saya rasa, mereka ga akan terlihat secantik sekarang kalau mereka ga sepintar itu. Dosen-dosen idola saya juga keliatannya cakep benjeeettt deh dimata saya, belajar di kampus makin seneng kalau mereka yang ngajar, cuci mata, asah otak pula.  Makanya, jadilah perempuan pintar, kalau kamu pintar, kecantikan akan menyusul dengan sendirinya, otomatis. Pintar itu pasti cantik, tapi cantik belum tentu pintar.

Note:

Saya nulis ini bukan berarti menggeneralisasi kalau semua cewek cantik itu pasti bodoh ya, gak kok. Selama ini saya selalu mendapat pendidikan di tempat terbaik, dan disana saya banyak menemukan teman yang udah cantik, pintar, kaya, baiiiikkkkk, ga sombong, Subhanallah. Saya sampai wonder, dulu ortunya temen-temen saya itu sedekah apa ya sampai bisa punya anak se-amazing itu? :D

Photo source: http://joyreactor.com/post/284189

May 12, 2013

jawaban buat yang pengen nge-“tes”..

Pernah nih suatu ketika ada bos kecil yang bertanya tentang gimana sih pendapat saya mengenai diberlakukannya UU AP. Curiga saya sih, dia ingin nge-“tes” saya. Well, saya ingat, pas masih jaman kuliah PPAk dulu saya sempat menulis tentang UU kontroversial ini, dan kebetulan essay saya mendapat nilai paling tinggi di kelas. Saya share aja ya disini..

Undang Undang Akuntan Publik No. 5 Tahun 2011 hadir untuk menggantikan UU mengenai pemakaian gelar akuntan (UU No 34 tahun 1954) yang dianggap kurang bisa menjelaskan secara rinci mengenai profesi akuntan publik. Dalam UU ini diatur tentang:

1)      Ketentuan umum mengenai profesi akuntan publik, mulai dari definisi profesi tersebut, definisi mengenai Kantor Akuntan Publik sebagai tempat resmi dari Akuntan Publik untuk melakukan praktek, serta terminologi-terminologi lain yang mengacu pada profesi AP dan digunakan dalam UU ini.

2)      Bidang jasa yang bisa dilayani oleh profesi akuntan publik, yaitu jasa assurance.

3)      Perizinan untuk bisa menjadi seorang akuntan publik, mulai dari persyaratannya hingga jangka waktu, dan perpanjangan izin.

4)      Perizinan untuk mendirikan Kantor Akuntan Publik baik yang didirikan oleh WNI maupun akuntan publik asing, beserta persyaratan dan perpanjangan izinnya, penggunaan nama, lisensi internasional, dan kerjasama diantara KAP lokal dan internasional hingga peraturan mengenai biayanya.

5)      Hak, kewajiban, dan larangan bagi akuntan publik. Sepertinya dalam bagian inilah legal aspect banyak dikaji.

6)      Asosiasi Akuntan Publik, yang sejak disahkannya UU ini maka resmi jugalah IAPI secara legal untuk menjadi satu-satunya asosiasi akuntan publik yang diakui negara.

7)      Juga diatur tentang Komite Profesi Akuntan Publik yang dibentuk Menteri Keuangan dan terdiri atas pihak-pihak yang berkaitan dengan profesi ini, mulai dari anggota asosiasi akuntan dan akuntan publik, otoritas berbagai lembaga keuangan, akademisi, hingga para profesional pengguna laporan keuangan.

8)      Pembinaan dan pengawasan terhadap setiap akuntan publik dan Kantor Akuntan Publik dilakukan oleh Menteri Keuangan.

9)      Sanksi administratif, tanggal kadaluarsa gugatan, dan ketentuan mengenai peralihan dari UU no. 34 tahun 1954 ke UU no. 5 tahun 2011.

Pelajaran utama yang harus kita ambil dari berlakunya Undang Undang Akuntan Publik ini adalah dalam setiap melakukan jasa assurance kita harus selalu berpegang teguh pada standar yang disebutkan dalam UU, serta harus menjamin adanya standar jaminan mutu bagi setiap jasa yang kita lakukan. Hal ini demi terciptanya perekonomian yang sehat dan akuntabel. Dalam melakukan jasa kita sebagai akuntan harus ingat bahwa tanggung jawab seorang akuntan publik itu tidak hanya bagi shareholder namun juga pada semua pihak yang mengambil keputusan berdasarkan laporan keuangan, misalkan supplier, bank, atau bahkan karyawan yang berhak mengetahui kelangsungan jaminan hari tua mereka. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugasnya akuntan publik harus mengutamakan prinsip kehati-hatian dan berusaha sebaiknya agar laporan keuangan memang benar telah bebas dari salah saji yang material.

Pengesahan terhadap Undang Undang Akuntan Publik ini telah menimbulkan berbagai reaksi, baik pro maupun kontra. Pro karena Undang Undang Akuntan Publik ini dianggap sebagai suatu kemajuan bagi perkembangan dunia akuntan publik Indonesia kedepannya dan dalam jangka panjang bisa berdampak bagi semakin sehat dan akuntabelnya perekonomian negara. Selain itu Undang Undang Akuntan Publik juga mengatur dan melindungi secara legal dan khusus mengenai profesi akuntan publik. Namun begitu tidak sedikit pula pihak yang merasa pengesahan ini sebagai ancaman, momok, bahkan bisa menghambat perkembangan profesi ini kedepannya dengan adanya peraturan yang menyatakan bahwa untuk menjadi seorang AP tidak harus berasal dari jurusan akuntansi atau adanya sanksi pidana yang jelas bagi akuntan publik yang terbukti melakukan pelanggaran.

Benar atau tidaknya kedua pendapat diatas tentu tergantung dari pola pikir kita masing-masing sebagai calon akuntan masa depan. Sebagai contoh, untuk  peraturan mengenai persyaratan menjadi akuntan publik yang diatur dalam pasal 5 ayat satu, meskipun tidak dinyatakan bahwa syarat untuk menjadi seorang akuntan publik harus berasal dari jurusan akuntansi, namun tetap saja ada persyaratan lain yang mengatur tentang persyaratan pengalaman untuk bekerja memberikan jasa assurance yang tentu saat ini hanya bisa dipenuhi oleh auditor yang bekerja di KAP.

Akan semakin heboh tentunya jika benar SPAP yang sekarang berlaku mengalami perubahan “big bang” dari rule base menjadi principal base, karena dengan begitu judgement akuntan publik akan sangat mempengaruhi keputusan, namun bisa juga menjadi alasan bagi akuntan publik untuk berkelit jika suatu ketika ditemukan adanya pelanggaran menurut Undang Undang Akuntan Publik.

Sebagai mahasiswa akuntansi, kita tidak perlu risau akan adanya UU ini karena dengan berlakunya UU ini tidak serta merta siapapun bisa menjadi akuntan publik, masih ada peraturan Menteri Keuangan dan peraturan dari IAPI sendiri yang bisa menjadi petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan dari adanya undang-undang ini. Seperti teori hukum konvensional mengatakan, “Lex specialis derogat legi generali“ dimana peraturan khusus mengesampingkan peraturan umum. Pihak IAPI pun sampai saat ini masih memberlakukan prasayarat akuntan register negara bagi siapa saja yang hendak mengikuti Id CPA Exam.

Selain itu banyak akuntan risau dengan sanksi pidana yang diperjelas dengan adanya UU ini. Sebenarnya akuntan tidak perlu risau mengahadapi hal tersebut, karena selain mengancam dengan sanksi pidana, di sisi lain UU ini juga melindungi setiap AP yang telah bekerja sesuai dengan standar. Maka sebaiknya untuk setiap judgement yang dibuat oleh AP harus didasari atas pertimbangan yang matang dan penuh kehati-hatian serta disertai alasan yang logis yang bersumber pada standar.

IAPI sebagai asosiasi akuntan publik resmi di negeri ini juga sebaiknya terus melakukan sosialisasi terhadap UU ini agar para akuntan bisa mengenal UU ini dengan lebih baik agar kedepannya UU ini tidak menjadi momok lagi bagi para akuntan.

May 11, 2013
9gag:

Taking desperation up to a new level


Cc: @iradest @mutseh @rmrhy @nieznez

9gag:

Taking desperation up to a new level


Cc: @iradest @mutseh @rmrhy @nieznez

May 11, 2013
9gag:

Aww. 😻😻😻 Follow @awwclub for more cute animals.

Malaikat juga tau kamu yang jadi juaranya

9gag:

Aww. 😻😻😻 Follow @awwclub for more cute animals.

Malaikat juga tau kamu yang jadi juaranya